Senin, 23 Juli 2012

Gelar Akademik Seharga 500 Miliar

Gelar Akademik Seharga 500 Miliar

By Herman Hasyim

OPINI | 26 March 2011 | 13:02 Dibaca: 883   Komentar: 98   5 dari 6 Kompasianer menilai aktual

Jumat kemarin rekan kerja saya menjalani ujian doktoral secara terbuka di sebuah universitas negeri di Bandung. Ada dua pertanyaan yang saya ingat betul, dari puluhan pertanyaan yang diajukan sembilan penguji dan promotor yang seluruhnya bergelar professor.
Pertanyaan pertama yang paling saya ingat, dan ini adalah pertanyaan paling awal yang diterima rekan kerja saya, berbunyi: “Apakah disertasi Anda orisinil atau tidak?”
Pertanyaan kedua yang paling saya ingat, dan ini terkesan main-main, berbunyi: “Orang-orang sering mengatakan jalanan macet. Apakah pernyataan ini betul?”
Rekan kerja saya berhasil menjawab pertanyaan pertama dengan meyakinkan. Tetapi terhadap pertanyaan kedua justru sebaliknya. Dia terdiam sejenak dan professor yang mengajukan pertanyaan itu tak bisa bersabar menunggu jawaban.
“Pernyataan ‘jalanan macet’ itu tidak logis. Orang yang bilang begitu pola pikirnya kacau,” tutur sang professor.
Meski dihujani pertanyaan-pertanyaan pelik, pada akhirnya rekan kerja saya berhasil mempertahankan disertasinya. Dia pun dinyatakan lulus dengan predikat ‘memuaskan’ dan berhak menyandang gelar Doktor.
***
Masih soal gelar, saya teringat sebuah papan nama di sebuah jalan di Jakarta Selatan. Iseng-iseng, saya 13011192991781709125mengabadikan papan nama itu dengan kamera. Jujur saja, membaca keterangan di papan nama itu membuat bulu kuduk saya merinding. Di negeri yang konon miskin ini kok ada ya orang yang sampai punya sembilan gelar akademik?
Si pemasang papan nama itu ialah Dr. Misahardi Wilamarta, SH, MH, MHum, MKn, LLM, SE, MM, MBA. Saya tak tahu persis, apakah cara saya menuliskan gelar-gelar itu benar atau salah. Yang jelas, saya tak salah hitung. Ada sembilan gelar akademik yang disandang Pejabat Pembuat Akta Tanah itu.
Bila dirinci, dia memiliki dua gelar S1 (SH dan SE), enam gelar S2 (MH, MHum, MKn, LLM, MM, MBA) dan sebuah gelar S3 (Dr).
Saya jadi teringat tetangga saya di kampung. Untuk mendapatkan gelar S1 di bidang kedokteran, orang tuanya harus menjual tanah satu hektar. Harga tanah di kampung tentu saja murah. Semeter per seginya cuma Rp 100.000. Mengingat 1 hektar sama dengan 10.000 meter per segi, berarti satu hektar tanah itu hanya senilai Rp 1 miliar.
Oke. Mari kita asumsikan bahwa untuk mendapatkan sebuah gelar S1 memerlukan sehektar tanah, S2 membutuhkan dua hektar tanah dan S3 memerlukan tiga hektar tanah. Dengan sembilan gelar yang disandangnya, yang rinciannya sebagaimana saya sebutkan di atas, maka maka Dr. Misahardi Wilamarta, SH, MH, MHum, MKn, LLM, SE, MM, MBA menghabiskan 17 hektar tanah.
Karena dia tinggal di Jakarta, kita pakai NJOP (nilai jual obyek pajak) wilayah Jakarta untuk menentukan harga tanah. Katakanlah NJOP-nya Rp 3 juta per meter per segi. Kalau 1 hektar sama dengan 10.000 meter per segi, berarti harga tanah sehektar ialah Rp 30 miliar. Selanjutnya mari kita kalikan hasilnya dengan 17, maka kita akan mendapatkan angka Rp 510 miliar atau lebih dari setengah triliun rupiah!
Saya punya adik yang sedang menempuh pendidikan S1 di sebuah kampus negeri di Jawa Timur. Per semester, biaya kuliahnya hanya Rp 900.000. Katakanlah, dia menempuh kuliah selama delapan semester, maka biaya kuliah seluruhnya adalah Rp 7,2 juta. Ditambah biaya untuk penulisan skripsi, kita bulatkan saja angka itu menjadi Rp 10 juta.
Sekarang kita balik lagi ke duit Rp 510 miliar yang dipakai seorang Pejabat Pembuat Akta Tanah tadi untuk memperoleh sembilan gelar. Jika duit sebesar itu dipakai untuk biaya kuliah yang besarnya sama dengan biaya kuliah adik saya, maka jumlah sarjana di Indonesia akan bertambah lebih dari 50.000 hanya dalam waktu empat tahun!
Tentu saja hitung-hitungan tadi ngawur. Tetapi harap dimaklumi dan dianggap wajar. Saya kan cuma punya sebiji gelar akademis. Tidak bisa dimaklumi dan sangat tidak wajar jika hitung-hitungan ngawur itu dihasilkan oleh seorang Doktor, apalagi dia punya embel-embel akademik hingga sembilan biji!
Rawamangun, 26 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar