Selasa, 27 Agustus 2013

Kenapa Kita Terhalang Melakukan Ketaatan?

Kenapa Kita Terhalang Melakukan Ketaatan?

OPINI | 02 January 2013 | 20:07 Dibaca: 160   Komentar: 0   2, kompasiana
Saudaraku,
Tidaklah kita terhalang untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang biasa kita tekuni sepanjang siang dan malam melainkan karena efek dari kemaksiatan yang kita lakukan. Karena kemaksiatan dan dosa memperlemah jalan seseorang menuju Allah, bahkan bisa memutus tali hubungan seseorang dengan Rabbnya. Jika hal itu terputus maka putuslah aliran-aliran kebaikan yang selama ini menaungi dan ada dalam jiwanya, maka ia hanya akan menemui semua faktor keburukan, semua perkaranya menjadi susah, menghilangkan kenikmatan yang datang dan memutus aliran nikmat yang akan diterima, menjadikannya orang yang lalai, jiwanya menjadi lemah. Dan salah nikmat terpenting yang dianugrahkan Allah kepada seorang hamba adalah nikmat iman dan kelezatan beribadah kepada Allah, dengan ia bermaksiat kepada Allah putuslah aliran nikmat yang akan diterimanya, maka tak ayal ia akan terhalang untuk melakukan berbagai ketaatan yang pernah ia tekuni dan ia akan kehilangan ketaatan dan banyak pahala.
Saudaraku, pernah diri ini (penulis) suatu ketika terhalang untuk bangun sebelum azan shubuh dikumandangkan selama beberapa hari berturut-turut, maka penulis mencari-cari apa yang telah menghalangi diriku untuk terbagun diawal pagi karena biasanya diri ini Insya Alllah berkat karunia Allah, selalu diberi kemudahan untuk bangun sebelum azan subuh dikumandangkan, minimal saat azan dikumandangkan penulis biasa telah terbangun. Tapi beberapa hari itu penulis selalu bangun lebih lambat sehingga terhalang untuk melakukan shalat shubuh berjamaah dimesjid. Sebelumnya satu-satunya hp penulis juga raib ditempat kerja.  Maka penulis  mencoba mengurut satu persatu kesalahan apa yang telah penulis lakukan sehingga terhalang bangun untuk shalat shubuh, usut-punya usut akhirnya penulis menyadari bahwa di awal bulan sebelum kejadian itu penulis pernah berniat akan menunaikan zakat atas penghasilan yang penulis peroleh, namun entah karena keengganan dan  rasa berat maka penulis menunda-nunda untuk membayarnya. Ketika penulis menyadarinya, langsung saja penulis menunaikan untuk membayar zakat tersebut dimesjid dekat rumah mesjid dimana penulis melakukan shalat lima waktu secara berjamaah. Benar saja saudaraku, ketika penulis telah membayarnya, paginya Alhamdulillah penulis terbangun ketika azan dikumandangkan. Syukur kepada Allah tak lupa penulis aturkan, sunggguh Ia mengingatkan penulis melalui peristiwa ini dan kembali penulis menikmati kenikmatan shalat shubuh berjamaah dimesjid.
Maka apa ibrah yang bisa penulis ambil dari kejadian tersebut?. Saudaraku jika kita terhalang untuk bangun saat fajar menyingsing dan azan shubuh  telah dikumandangkan dan kita kehilangan momentum untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah di mesjid ,jika suatu ketika kita terhalang melakukan qiyamul lail yang biasa kita lakukan setiap sepertiga malam, , jika suatu saat harta-harta yang kita kumpulkan tidak membawa kebaikan dan ketenangan kepada kita,  dan Allah mengambil secara paksa harta kita melalui cara-cara yang tidak kita senangi,  dan masih banyak lagi mungkin ketaatan-ketaatan yang kita tekuni selama ini sepanjang siang dan malam yang kita terhalang untuk melakukannya, malah jiwa ini menjadi berat untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan tersebut, berangsur-angsur ketaatan-ketaatan yang selama ini kita tekuni gugur satu persatu,maka itu pertanda kabut kemaksiatan telah menyelimuti kita, butiran-butiran debu dosa yang mungkin kita tak sadari telah melakukannya telah mengalangi langkah kita untuk melakukan ketaatan-ketaatan tersebut.
Sebagian ulama salaf berkata, “Aku pernah melakukan dosa, dan aku diharamkan (terhalang) untuk melakukan shalat sunnah qiyamul lail diwaktu malam”.  Dan yang lainnya berkata, “Aku pernah melakukan dosa, maka aku diharamkan (sulit) untuk memahami Al-Qur’an. Maka tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa melainkan hilang nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala darinya sebanyak atau sebesar dosa yang dikerjakan. Dan jika dia bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu WaTa’ala, maka kembalilah nikmat tersebut atau yang semisalnya kepadanya. Dan jika dia mengulangi kembali atau terus menerus melakukan dosa, maka nikmat pun tidak kembali kepadanya. Maka dosa-dosa itu pun senantiasa menghilangkan nikmat demi nikmat sampai semuanya lenyap dan tak tersisa. Dan Kenikmatan ibadah adalah termasuk salah satu dari nikmat Allah yang agung, jika kita bermaksiat maka hilanglah nikmat ini seperti api yang memakan kayu. Na’udzu billah dari kehilangan nikmat dan ampunanNya.
Maka mari saudaraku, perbanyak istighfar atas setiap dosa dan k esalahan baik yang kita sadari ataupun yang kita tidak sadar melakukannya. Bersegeralah kita kepada ampunan Allah yang seluas langit dan bumi, Semoga saja Allah anugrahkan kepada kita hati yang sensitif yang bisa mendeteksi dan meraba setiap kesalahan yang kita lakukan baik itu kecil atupun besar, menjadikan kita orang-orang yang cepat kembali kepada Tuhan nya jika kita tersalah dan khilaf, menjadikan kita orang yang memandang dosa-dosa yang dilakukanya ibarat sebuah gunung besar atau mungkin lebih besar walaupun dosa yang kita lakukan sepele karena begitulah seorang muslim memandang setiap dosa dan kesalahan, ia tidak pernah meremahkan dosa dan kemaksiatan sekalipun kecil.
Batam, 2 Januari 2013
Ahmad Khan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar