Rabu, 11 September 2013

Agar Langgeng Bisnis Bersama teman

Agar Langgeng Bisnis Bersama teman 

Agar Langgeng Bisnis Bersama teman
Image by : Istimewa
Sudah tidak dapat dipungkiri kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Artinya, manusia membutuhkan orang lain untuk hidup. Dan kebutuhan akan orang lain itu terwujud dalam bentuk kepercayaan.

Berbisnis tentu takkan terlepas dari kepercayaan. Kepercayaan yang bisa dibangun oleh dua orang – atau lebih – yang memiliki kesamaan cara pandang, ide, serta saling melengkapi kekurangan dan kelemahan masing-masing, dan kepercayaan itu sendiri.

Sayangnya, yang seringkali terjadi adalah kepercayaan masing-masing partner bisnis di kemudian hari bakalan semakin menipis, bahkan hilang sama sekali. Umumnya hal itu terjadi karena ego masing-masing pihak, serta lalai membuat aturan main bersama sejak awal bisnis dibangun. Akibatnya, bisnis hancur, dan karyawan yang menggantungkan diripada perusahaan, terpaksa kehilangan pekerjaan.

Simak berbagai tip berikut agar berbisnis dengan teman sebagai partner bisnis bisa langgeng dan dapat semakin maju:

Bicarakan sejak awal. Salah satu kesalahan dalam berbisnis bersama teman adalah prinsip kumaha engke alias bagaimana nantinya saja. Padahal, membicarakan banyak hal sejak awal adalah kunci agar masing-masing pihak mengetahui rambu-rambu yang telah ditetapkan bersama.

Permodalan. Hal ini tentu hal penting. Tapi yang tak kalah penting adalah bagaimana cara modal itu akan dikumpulkan. Pertanyaan ini berhubungan dengan soal pembagian keuntungan di kemudian hari, tata cara pembelian saham perusahaan, dan sebagainya.

Bagi tugas. Lima orang brilian dengan ide-ide cemerlang, bekerja di satu bidang, tentu bukan langkah pintar. Sejak awal harus ditentukan fungsi masing-masing orang sesuai dengan kompetensi, atau tantang partner bisnis untuk belajar hal baru yang dapat mendukung bisnis baru tersebut, sehingga masing-masing partner punya learning curve yang sedikit banyak sama.

Tenaga ahli. Kalau langkah di atas tidak berhasil, tak ada salahnya untuk merekrut tenaga ahli. Yang terpenting adalah membangun sistem pelaporan dan pengawasan untuk mencegah manipulasi di kemudian hari oleh tenaga ahli. Lebih bagus lagi kalau seiring berjalannya waktu Anda dan partner bisnis mempelajari hal itu juga. (Antono Purnomo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar