Selasa, 22 Oktober 2013

Akibat Hukum Meninggalnya Sekutu Aktif Terhadap Utang CV

Senin, 21 Oktober 2013
Pertanyaan:
Akibat Hukum Meninggalnya Sekutu Aktif Terhadap Utang CV
Pada 2008, CV. Indah meminjam uang di bank. CV tersebut terdiri dari direktur, wakil direktur dan 1 komanditer. Pada 2009, Direktur CV. Indah meninggal dunia dan digantikan oleh wakil direktur menjadi direktur dan masuk anggota lain sebagai wakil direktur. Terhadap perjanjian pinjaman di bank, apakah perlu dilakukan novasi atau dapat dilakukan adendum saja jika pinjaman tersebut jatuh tempo untuk diperpanjang? Terima kasih.
piyooh
Jawaban:
http://images.hukumonline.com/frontend/lt506aec66ed27e/lt506bc9aa28ce7.jpg
Kami berasumsi bahwa yang Anda maksud dengan CV adalah Commanditair Vennootschap (Persekutuan Komanditer). CV diatur dalam Pasal 16 – Pasal 35 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (“KUHD”).
 
Sebagaimana pernah dijelaskan dalam artikel yang berjudul Akibat Hukum Jika Sekutu Komanditer Melakukan PMH, persekutuan Komanditer (commandiraire vennootschap atau CV) adalah suatu persekutuan yang didirikan oleh seseorang atau oleh beberapa orang yang mempercayakan uang dan atau barang kepada seseorang atau beberapa orang yang menjalankan pengurusan yang dikenal sebagai sekutu aktif (sekutu komplementer) dan orang yang mempercayakan uang (pemberi modal) tersebut disebut sekutu komanditer (Pasal 19 KUHD).
 
CV bukanlah badan hukum, oleh karena itu dalam melakukan tindakan hukum, CV diwakili oleh sekutu aktifnya. M. Yahya Harahap, dalam bukunya yang berjudul Hukum Perseroan Terbatas (hal. 18-19), sebagaimana kami sarikan, menjelaskan bahwa anggota dari CV yang bertindak keluar adalah anggota yang melakukan pengurusan, yang disebut sekutu komplementaris (sekutu aktif). Kepada para sekutu komplementaris berlaku ketentuan mengenai keanggotaan Firma.
 
Ini berarti bahwa terhadap para sekutu aktif, berlaku Pasal 18 KUHD yang mana tiap-tiap sekutu secara tanggung menanggung bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala perikatan dari persekutuan.
 
Lebih lanjut mengenai CV, Anda dapat membaca beberapa artikel berikut:
 
Mengenai apakah perlu dilakukan novasi atau tidak, pertama kita lihat dulu apa itu novasi. Sebagaimana pernah dijelaskan dalam artikel yang berjudul Cara-cara Pembaruan Utang (Novasi), dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”), novasi diterjemahkan sebagai pembaruan utang.
 
J. Satrio, dalam bukunya yang berjudul Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie, dan Percampuran Hutang (hal. 102-103), menjelaskan bahwa berdasarkan Pasal 1413 KUHPer, ada tiga macam jalan untuk pembaruan utang:
1.    Pertama disebutkan tentang penggantian perikatan lama dengan perikatan baru untuk orang yang mengutangkan (novasi objektif);
2.    Kedua, di mana ada debitur baru ditunjuk untuk menggantikan debitur lama (novasi subjektif pasif);
3.    Ketiga dan yang terakhir, peristiwa di mana kreditur baru ditunjuk menggantikan kreditur lama (novasi subjektif aktif).
 
Bunyi selengkapnya Pasal 1413 KUHPer adalah sebagai berikut:
 
Ada tiga macam jalan untuk pembaruan utang:
1.    bila seorang debitur membuat suatu perikatan utang baru untuk kepentingan kreditur yang menggantikan utang lama, yang dihapuskan karenanya;
2.    bila seorang debitur baru ditunjuk untuk menggantikan debitur lama, yang oleh kreditur dibebaskan dan perikatannya;
3.    bila sebagai akibat suatu persetujuan baru seorang kreditur baru ditunjuk untuk menggantikan kreditur lama, yang terhadapnya debitur dibebaskan dan perikatannya.
 
Jika ingin dilakukan novasi (dalam hal ini, novasi subjektif pasif atau pembaharuan akibat perubahan debitur), kita harus melihat pada pengertian novasi subjektif pasif itu sendiri. Novasi subjektif pasif pada dasarnya adalah pembaharuan utang yang terjadi ketika debitur menawarkan kepada krediturnya seorang debitur yang baru, yang bersedia untuk mengikatkan dirinya demi keuntungan kreditur (bersedia untuk membayar utang-utang debitur).
 
Sedangkan dalam CV, sebenarnya debiturnya adalah pihak yang sama, hanya saja orang yang mewakilkan berbeda. Ini karena tindakan yang dilakukan oleh sekutu aktif (yang bertindak untuk dan atas nama CV) menjadi tanggung jawab para sekutu aktif secara tanggung menanggung. Karena itu, sebenarnya yang menjadi debitur adalah sama yaitu si CV sendiri.
 
Dengan demikian, dalam memperpanjang perjanjian kredit dengan perubahan orang yang mewakili dalam perjanjian kredit tersebut dapat dilakukan hanya dengan perubahan perjanjian kredit.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
 
Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter sumber@klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar